Belanja produk fashion original hingga kecantikan dan terlengkap di ZALORA. Dapatkan diskon hingga penawaran harga murah khusus untukmu!
Pernah memperhatikan bagaimana penampilan seorang mempelai pria atau pria yang menghadiri acara adat Jawa selalu terlihat berwibawa dan penuh kharisma? Salah satu rahasianya terletak pada beskap, busana tradisional yang hingga kini tetap menjadi simbol keanggunan, kesopanan, dan penghormatan terhadap budaya. Meski identik dengan upacara adat dan pernikahan, beskap kini semakin sering dikenakan dalam berbagai acara formal. Karena mampu menghadirkan kesan klasik yang tak lekang oleh waktu.
Banyak orang mengira semua beskap memiliki model yang sama. Padahal, setiap jenis beskap memiliki potongan, filosofi, dan karakter yang berbeda. Memahami perbedaannya akan membantu kamu memilih model yang paling sesuai dengan kebutuhan sekaligus membuat penampilan terlihat semakin autentik.
Tak hanya itu, pesona beskap juga tidak bisa dipisahkan dari berbagai aksesori pelengkapnya. Blangkon, keris, jarik, sabuk, hingga selop bukan sekadar pelengkap penampilan, tetapi juga memiliki makna budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika dipadukan dengan tepat, setiap elemen tersebut mampu menciptakan tampilan yang harmonis sekaligus memperkuat identitas busana adat yang dikenakan.
Nah, kalau ZALORAns sedang mempersiapkan pernikahan adat, menghadiri acara budaya, atau sekadar ingin mengenal lebih jauh kekayaan busana tradisional Indonesia, artikel ini akan mengajakmu mengenal berbagai jenis beskap Jawa dan aksesori pelengkapnya.
Yuk, simak sampai akhir penjelasannya berikut ini!
Baca Juga : Inspirasi Kostum Pahlawan Nasional by ZALORA
Jenis Beskap Jawa dan Asal Usulnya
Beskap Jawa merupakan salah satu pakaian adat pria yang sering dikenakan dalam berbagai acara adat. Seiring perkembangan budaya, beskap memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan daerah, fungsi, dan gaya pemakaiannya. Di bawah ini ada ulasan untuk mengetahui jenis beskap Jawa dan asal usulnya.
Beskap Langenharjan

Source: Google
Di antara berbagai jenis beskap, Beskap Langenharjan dikenal sebagai model yang paling kuat memperlihatkan pengaruh gaya busana Eropa. Hal ini terlihat dari siluetnya yang menyerupai jas formal dengan bagian depan berbentuk jaz buka, yaitu lipatan kerah yang memanjang hingga dada dan menutup rapat. Beskap ini umumnya menggunakan satu atau dua kancing sebagai penutup. Sedangkan bagian belakangnya dibuat lebih pendek dan dilengkapi krowokan, yakni celah khusus untuk menyelipkan keris. Tampilan tersebut semakin sempurna dengan lapisan dalam berupa kemeja lengan panjang berkerah tegak (staande kraag), rompi, serta dasi kupu-kupu yang memberikan kesan rapi dan elegan.
Pada masa Kerajaan Mangkunegaran, Beskap Langenharjan merupakan busana resmi yang dikenakan oleh raja beserta para putra dalem saat menghadiri upacara kebesaran. Penampilannya juga dilengkapi dengan berbagai aksesori tradisional. Seperti kain batik bermotif parang kusumo, stagen, sabuk cindhe, boro cindhe, hingga epek wuntu walang yang dipadukan dengan timang emas. Sebagai penutup kepala digunakan destar dengan motif senada dengan kain batik. Kemudian disempurnakan menggunakan selop hitam serta aksesori seperti bros, kalung ulur (kalun ulur atau kerset), dan jenthitan pada destar sebagai sentuhan akhir.
Lahirnya Beskap Langenharjan tidak lepas dari sebuah peristiwa bersejarah. Busana ini diciptakan pada masa K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV ketika beliau hendak menghadiri peresmian Pesanggrahan Langenharjo atas undangan Paku Buwana IX. Karena belum ada pakaian resmi yang sesuai untuk tetap membawa keris. Jas bergaya Belanda (Rokkie Walandi) kemudian dimodifikasi dengan memotong bagian belakangnya agar keris tetap dapat dikenakan. Inovasi tersebut melahirkan model busana baru yang memadukan unsur Barat dengan tradisi Jawa. Sebagai penghormatan terhadap tempat lahirnya desain tersebut, Paku Buwana IX kemudian menamainya Beskap Langenharjan. Dimana selanjutnya menjadi busana resmi saat menghadap raja.
Beskap Sikepan

Source: Google
Jika diperhatikan sekilas, Beskap Sikepan memiliki tampilan yang cukup berbeda dibandingkan jenis beskap lainnya. Model ini dirancang menyerupai jas pendek dengan bukaan di bagian tengah, tetapi uniknya bukaan tersebut memang tidak dibuat untuk dikancingkan. Di balik beskap, dikenakan kemeja putih berkerah tegak yang memberikan kesan bersih, rapi, sekaligus berwibawa. Desain yang sederhana inilah justru menjadi salah satu ciri khas utama Beskap Sikepan.
Dalam tradisi Mangkunegaran, Beskap Sikepan terbagi menjadi dua jenis, yaitu Sikepan Alit dan Sikepan Ageng. Sikepan Alit memiliki detail kancing yang terletak di sisi kanan, sedangkan Sikepan Ageng tampil lebih megah dengan tambahan bordir berwarna emas pada kedua sisi bagian depan. Perbedaan tersebut bukan hanya mempercantik tampilan, tetapi juga mencerminkan tingkatan serta fungsi busana sesuai kedudukan pemakainya.
Dahulu, Beskap Sikepan dikenakan oleh pejabat tinggi di lingkungan Mangkunegaran, terutama mereka yang menjabat sebagai Bupati Anom dan Tumenggung. Penampilannya semakin lengkap dengan keris yang diselipkan di bagian belakang serta destar atau blangkon sebagai penutup kepala. Perpaduan seluruh elemen tersebut mencerminkan kehormatan, kewibawaan, dan status sosial yang dimiliki oleh pemakainya.
Baca Juga : Ini Warna Kebaya yang Bikin Kulit Cerah Saat Difoto
Beskap Landung

Source: Google
Kalau Beskap Langenharjan identik dengan sentuhan Eropa, Beskap Landung justru tampil lebih sederhana dengan karakter yang klasik. Potongannya memang sekilas menyerupai Beskap Cekak. Tetapi memiliki panjang yang lebih menyerupai jas sehingga memberikan kesan formal dan elegan. Salah satu pembeda utamanya adalah bagian belakang yang dibuat tanpa krowokan, sehingga tampilan beskap terlihat lebih bersih dan simetris.
Keunikan Beskap Landung juga tampak pada detail pethakan, yaitu lapisan kain putih selebar sekitar empat hingga lima sentimeter yang terlihat di area kerah dan ujung lengan. Detail ini memberikan ilusi seolah pemakainya mengenakan kemeja putih di balik beskap, padahal elemen tersebut sudah menjadi bagian dari desain busana. Meski terlihat sederhana, pethakan justru menjadi ciri khas yang memperkuat kesan berkelas.
Dalam tradisi Jawa, Beskap Landung sering dikenakan pada prosesi midodareni, yaitu rangkaian acara adat yang dilaksanakan pada malam sebelum akad nikah. Pada momen ini, calon mempelai pria bersama keluarganya datang ke rumah calon mempelai perempuan untuk menyerahkan seserahan. Sekaligus mengikuti prosesi adat sebagai simbol berakhirnya masa lajang sebelum memasuki kehidupan baru sebagai pasangan suami istri.
Beskap Jawi Jangkep

Source: Google
Saat membahas busana adat pria Jawa, rasanya kurang lengkap tanpa mengenal Beskap Jawi Jangkep. Busana yang berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta ini menjadi salah satu simbol keanggunan pria Jawa yang masih terus dilestarikan hingga sekarang. Satu set Jawi Jangkep terdiri atas beskap sebagai atasan yang dipadukan dengan kain jarik sebagai bawahan. Kemudian dilengkapi berbagai aksesori seperti blangkon, keris, stagen, sabuk, alas kaki tradisional, hingga untaian bunga melati yang melambangkan kehormatan, kebijaksanaan, dan kewibawaan.
Beskap Jawi Jangkep sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu Jawi Jangkep Resmi dan Jawi Jangkep Padinten. Jawi Jangkep Resmi biasanya dikenakan pada acara adat maupun upacara kebesaran, dengan dominasi warna hitam dan sentuhan motif emas yang memberikan kesan mewah serta penuh wibawa.
Sementara itu, Jawi Jangkep Padinten hadir sebagai versi yang lebih sederhana dan digunakan untuk kegiatan nonformal, seperti pertemuan keluarga atau acara sehari-hari. Meskipun tampil lebih sederhana, tata cara pemakaiannya tetap mengikuti pakem busana adat Jawa. Mulai dari pemilihan kain jarik hingga penggunaan aksesori pelengkap agar nilai tradisinya tetap terjaga.
Baca Juga : 4 Rekomendasi Kebaya Rosegold, Glamor dan Elegan
Nah, itulah beberapa jenis beskap Jawa dan aksesori pelengkapnya yang perlu kamu ketahui.
Mau cari berbagai kebaya dan baju batik cantik yang berkualitas dengan harga terjangkau? Cek koleksi selengkapnya hanya di ZALORA! Dapatkan promo spesial yang menarik untukmu!

Penulis: Fitrian Nurentama


