Mengenal Pakaian Adat Surjan Khas Jogja Jawa Tengah

Mengenal Pakaian Adat Surjan Khas Jogja Jawa Tengah

Belanja produk fashion original hingga kecantikan dan terlengkap di ZALORA. Dapatkan diskon hingga penawaran harga murah khusus untukmu!   

Surjan merupakan salah satu pakaian adat khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang hingga kini masih menjadi simbol identitas budaya masyarakat Jawa. Sekilas, busana ini memang terlihat sederhana dengan desain yang khas. Tetapi di balik setiap detailnya tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, kesopanan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun. Tak heran jika Surjan tidak hanya dikenakan dalam upacara adat, tetapi juga pada berbagai acara resmi, pernikahan tradisional, hingga peringatan budaya.

Pakaian adat Surjan memiliki ciri khas yang membuatnya mudah dikenali, mulai dari potongan baju, motif kain, hingga aksesori pelengkap yang dikenakan bersama jarik dan blangkon.

Lantas, seperti apa sejarah lahirnya pakaian adat Surjan Jogja? Apa saja ciri khas, filosofi, dan makna busana tradisional ini? Yuk, kenali lebih dekat pakaian adat Surjan Jogja yang menjadi salah satu warisan budaya Indonesia dengan nilai sejarah dan filosofi yang begitu kaya.

Baca Juga : Pakaian Adat Sulawesi Tenggara, Warisan Budaya Penuh Makna

Asal-usul dan Sejarah Surjan

Surjan dipercaya telah hadir sejak masa Kerajaan Mataram Islam dan awalnya dikenakan oleh kalangan priyayi serta abdi dalem dalam berbagai kegiatan resmi di lingkungan keraton. Seiring berjalannya waktu, busana ini tidak lagi terbatas pada lingkungan kerajaan, melainkan berkembang menjadi salah satu pakaian adat yang paling ikonik dari Yogyakarta. Hingga kini, Surjan masih sering dikenakan dalam upacara adat, acara budaya, maupun momen-momen penting sebagai bentuk pelestarian tradisi Jawa. Dalam perkembangannya, Surjan memiliki dua jenis yang paling dikenal, yaitu Surjan Lurik dan Surjan Ontrokusuma. Keduanya memiliki karakteristik, fungsi, dan filosofi yang berbeda. 

Filosofi Pakaian Adat Surjan

Surjan bukan sekadar pakaian adat, tetapi juga menyimpan filosofi yang erat kaitannya dengan nilai-nilai kehidupan dan ajaran spiritual. Nama Surjan dipercaya berasal dari bahasa Arab, yaitu sirajan, yang terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 46 melalui frasa sirajan munira, yang berarti cahaya yang menerangi. Dalam pemaknaan masyarakat Jawa, kata sirajan diartikan sebagai pepadhang atau penerang, sedangkan munira bermakna menyinari.

Ciri khas Surjan juga terlihat dari penggunaan kain bermotif lurik, yaitu motif garis-garis sejajar yang memiliki makna mendalam. Motif ini dikaitkan dengan kata furqan, yang berarti pembeda antara kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, Surjan menjadi simbol pengingat agar seseorang mampu membedakan mana perilaku yang patut dilakukan dan mana yang harus dihindari dalam kehidupan sehari-hari.

Makna filosofis Surjan juga tercermin pada susunan kancingnya. Di bagian leher depan terdapat tiga pasang atau enam buah kancing yang melambangkan enam Rukun Iman dalam ajaran Islam. Sementara itu, pada bagian manset lengan kanan dan kiri terdapat lima buah kancing yang menjadi simbol lima Rukun Islam, sebagai pengingat akan kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap muslim.

Selain itu, terdapat tiga kancing tersembunyi di bagian dada dekat perut. Letaknya yang tidak terlihat memiliki makna bahwa manusia harus mampu mengendalikan tiga jenis hawa nafsu. Diantaranya adalah nafsu bahimah yang berkaitan dengan sifat kebinatangan dan nafsu lawwamah yang berhubungan dengan keinginan duniawi seperti makan dan minum secara berlebihan. Serta nafsu syaithaniyah yang mendorong seseorang pada perbuatan buruk. Filosofi ini mengajarkan bahwa pengendalian diri merupakan salah satu kunci untuk menjalani kehidupan yang bijaksana dan penuh kebajikan.

Baca Juga : Kenali Ragam Pakaian Adat Sumatera Barat

Macam-Macam Motif Surjan

Seiring berjalannya waktu, pakaian adat Surjan hadir dengan berbagai motif yang memiliki karakter dan makna tersendiri. Masing-masing motif tidak hanya mempercantik tampilan busana, tetapi juga mencerminkan status sosial, filosofi hidup, hingga sejarah perkembangannya di lingkungan Keraton Yogyakarta.

1. Surjan Lurik

Source: Google

Motif lurik merupakan motif paling awal yang digunakan pada pakaian Surjan. Konon, Surjan lurik pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai simbol pakaian takwa. Kata lurik sendiri berasal dari kata lorek yang berarti garis-garis, melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kehidupan yang tertata.

Di lingkungan keraton, ukuran garis pada motif lurik juga memiliki makna tersendiri. Semakin lebar garis yang terdapat pada kain, semakin tinggi pula kedudukan atau jabatan orang yang mengenakannya. Dalam perkembangannya, motif lurik tidak hanya berupa garis vertikal, tetapi juga berkembang menjadi motif kotak-kotak yang merupakan perpaduan antara garis vertikal dan horizontal.

2. Surjan Ontrokusuma

Source: Google

Selain lurik, terdapat Surjan Ontrokusuma yang dikenal melalui motif bunga-bunga yang lebih mewah. Busana ini umumnya dibuat menggunakan kain sutra dengan hiasan floral yang kaya akan detail dan warna. Dahulu, Surjan Ontrokusuma hanya dikenakan oleh pejabat serta kalangan bangsawan keraton sebagai simbol kehormatan dan status sosial. Masyarakat umum tidak diperbolehkan mengenakannya tanpa izin dari pihak keraton.

3. Surjan Jacquard

Source: Google

Jenis lainnya adalah Surjan Jacquard, yang juga menampilkan motif bunga tetapi dengan tampilan yang lebih halus dan elegan. Berbeda dengan Surjan Ontrokusuma yang memiliki motif dan warna mencolok, Surjan Jacquard hadir dengan corak floral yang lebih lembut serta pilihan warna yang cenderung netral. Karakter tersebut membuatnya terlihat lebih sederhana, namun tetap memancarkan kesan berkelas dan elegan.

Penggunaan Surjan di Masa Kini

Hingga saat ini, Surjan tetap menjadi salah satu busana adat yang memiliki peran penting dalam berbagai tradisi dan kegiatan budaya di Yogyakarta. Pakaian ini masih sering dikenakan dalam upacara adat, acara resmi keraton, prosesi pernikahan tradisional, hingga pertunjukan seni seperti wayang orang. Tak hanya itu, sejumlah pejabat daerah, tokoh budaya, maupun abdi dalem Keraton Yogyakarta juga mengenakan Surjan sebagai simbol penghormatan terhadap warisan budaya. Dengan ketentuan warna dan motif yang disesuaikan dengan aturan yang berlaku.

Seiring perkembangan dunia fashion, Surjan juga mengalami berbagai inovasi tanpa menghilangkan ciri khasnya. Kini, banyak desainer menghadirkan Surjan dalam tampilan yang lebih modern dengan potongan yang lebih praktis, material yang ringan, dan desain yang nyaman digunakan. Berkat sentuhan tersebut, Surjan tidak hanya cocok dikenakan dalam acara adat. Tetapi juga dapat menjadi pilihan busana untuk acara semi formal maupun berbagai kegiatan yang ingin menghadirkan nuansa tradisional dengan gaya yang lebih kekinian.

Nah, itulah sejarah, makna, filosofi, dan jenis motif pakaian adat Surjan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang perlu kamu ketahui. Semoga ulasan di atas membantu ZALORAns ya.

Baca Juga : Kenali Jenis Pakaian Adat DKI Jakarta

Mau cari berbagai kebaya dan baju batik cantik yang berkualitas dengan harga terjangkau? Cek koleksi selengkapnya hanya di ZALORA! Dapatkan promo spesial yang menarik untukmu!

Penulis: Fitrian Nurentama