Perbedaan Blangkon Solo dan Jogja, Penutup Kepala Khas Jawa

Perbedaan Blangkon Solo dan Jogja, Penutup Kepala Khas Jawa

Belanja produk fashion original hingga kecantikan dan terlengkap di ZALORA. Dapatkan diskon hingga penawaran harga murah khusus untukmu! 

Siapa yang tidak kenal blangkon? Penutup kepala tradisional pria Jawa ini lebih dari sekedar aksesoris. Dari upacara pernikahan hingga pertunjukan seni tradisional, blangkon selalu tampil sebagai bagian penting dalam busana adat. Namun, tahukah kamu bahwa blangkon ternyata memiliki variasi yang berbeda, tergantung dari daerah asalnya?

Blangkon Solo dan Jogja, misalnya, meskipun sama-sama berasal dari tanah Jawa, menyimpan keunikan yang begitu khas. Dari bentuknya hingga motifnya, keduanya mencerminkan karakteristik masyarakat masing-masing. 

Yuk, kita eksplorasi lebih jauh perbedaan menarik antara blangkon Solo dan Jogja dalam artikel ini! Siap untuk menelusuri lebih dalam mengenai perbedaan di balik lipatan kain tradisional ini? Sebelumnya, ketahui dulu asal usul blangkon berikut ini!

Baca juga : Rekomendasi Kemeja Batik Pria Mewah dan Elegan

Asal Usul Blangkon

Blangkon bukan sekadar penutup kepala tradisional bagi masyarakat Jawa. Di balik bentuknya yang khas, tersimpan sejarah panjang, filosofi hidup, serta nilai budaya yang masih dijaga hingga sekarang. Tak heran jika blangkon tidak hanya dikenakan saat upacara adat atau pernikahan. Tetapi juga menjadi simbol identitas, kewibawaan, dan penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tidak semua blangkon memiliki bentuk dan makna yang sama. Dua jenis yang paling sering dijumpai adalah blangkon Solo dan blangkon Jogja. Sekilas keduanya memang tampak mirip, tetapi jika diamati lebih dekat, terdapat perbedaan yang cukup mencolok, mulai dari bentuk bagian belakang, motif batik, hingga filosofi yang melatarbelakanginya. Setiap detail tersebut bukan dibuat tanpa alasan, melainkan mencerminkan karakter serta nilai budaya yang berkembang di masing-masing daerah.

1. Aji Saka

Salah satu cerita yang populer mengisahkan Aji Saka, seorang penguasa Tanah Jawa yang dikenal karena keberhasilannya mengalahkan Dewata Cengkar, raksasa penguasa tanah Jawa. Dalam legenda ini, Aji Saka menggunakan penutup kepala yang sangat besar untuk menutupi seluruh tanah Jawa sebagai simbol kemenangan atas Dewata Cengkar. 

Meski demikian, kisah ini tidak secara rinci menjelaskan ukuran atau jenis kain yang digunakan sebagai penutup kepala tersebut. Beberapa orang mengaitkan penutup kepala yang digunakan Aji Saka dengan bentuk awal dari blangkon yang kita kenal sekarang.

2. Ki Ageng Giring

Kisah lain mengaitkan asal-usul blangkon dengan Ki Ageng Giring, seorang tokoh penting dalam sejarah Keraton Mataram. Pada masa itu, banyak penyebar agama Islam yang datang ke tanah Jawa dengan rambut panjang, karena mereka tidak ingin memotong rambut sebagai bentuk penghormatan terhadap anugerah Tuhan. 

Sementara itu, dalam budaya Jawa, tidak ada tradisi bagi pria untuk memiliki rambut panjang. Untuk mengatasi masalah tersebut, Ki Ageng Giring mencetuskan penggunaan ikat kepala untuk menutupi rambut panjang tersebut. 

Seiring berjalannya waktu, ikat kepala ini berkembang menjadi blangkon yang kita kenal dengan ciri khas mondolan di bagian belakang yang dianggap sebagai simbol ikatan rambut. Di Solo, mondolan blangkon sedikit berbeda, berbentuk gepeng karena para pengikut ajaran Islam di sana telah memotong rambut mereka.

3. Para Pedagang Asal Gujarat

Teori lain menyebutkan bahwa blangkon berasal dari akulturasi budaya Hindu dan Islam yang terjadi di tanah Jawa. Para pedagang dari Gujarat yang sering datang ke Jawa membawa kebiasaan melilitkan kain panjang di kepala mereka yang dikenal dengan istilah sorban. 

Hal ini kemudian menginspirasi masyarakat Jawa untuk mengenakan ikat kepala serupa. Seiring waktu, kebiasaan ini berkembang menjadi bentuk blangkon yang lebih khas, sebagai representasi dari pengaruh budaya luar yang masuk ke dalam tradisi Jawa.

4. Krisis Ekonomi

Cerita lainnya menyebutkan bahwa penggunaan blangkon dimulai pada masa krisis ekonomi di tanah Jawa. Sebelumnya, ikat kepala seperti sorban digunakan secara temporer dan tidak permanen. Namun, ketika terjadi krisis ekonomi dan kain menjadi barang yang langka, para petinggi keraton memerintahkan para seniman untuk menciptakan blangkon yang lebih permanen. 

Blangkon ini terbuat dari kain yang lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan sorban, sehingga lebih hemat dan praktis untuk digunakan. Blangkon yang lebih efisien ini kemudian menjadi populer dan bertahan hingga saat ini.

Baca juga : Inspirasi Pose Foto Prewed Tradisional Adat Jawa, Elegan dan Klasik!

Apa Itu Blangkon?

Blangkon memiliki peran penting dalam kebudayaan Jawa, khususnya bagi laki-laki. Penutup kepala tradisional ini bukan hanya bagian dari busana adat, tetapi juga sarat akan filosofi dan menjadi simbol identitas budaya masyarakat Jawa. Terbuat dari kain batik yang dibentuk mengikuti kontur kepala, blangkon digunakan sebagai pelengkap pakaian tradisional dalam berbagai upacara adat, kegiatan budaya, maupun acara resmi. Selain berfungsi sebagai penutup kepala, blangkon juga mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Setiap blangkon memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari motif, warna, hingga cara pemakaiannya. Perbedaan tersebut seringkali menunjukkan asal daerah, latar budaya, bahkan kedudukan sosial seseorang. Keunikan bentuknya juga membuat blangkon mudah dibedakan dari penutup kepala tradisional lain di Indonesia. 

Keberadaan blangkon tidak terlepas dari perjalanan sejarah panjang budaya Jawa. Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa blangkon dipengaruhi oleh budaya luar yang kemudian disesuaikan dengan tradisi lokal. Pada masa lalu, blangkon dikenal dengan sebutan iket, yang memiliki bentuk dan fungsi yang pada dasarnya sama dengan blangkon yang digunakan saat ini. 

Ada pula berbagai cerita turun-temurun mengenai asal-usulnya. Salah satu kisah yang sering dikaitkan dengan iket atau blangkon adalah legenda Aji Saka yang hidup dalam tradisi dan cerita rakyat masyarakat Jawa. Seiring perkembangan zaman, blangkon tetap mempertahankan maknanya sebagai simbol karakter, kehormatan, dan nilai kehidupan masyarakat Jawa. Meski kini penggunaannya tidak sesering dahulu, blangkon masih terus dilestarikan dan menjadi bagian penting dari warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan filosofi yang mendalam.

Makna Blangkon

Bagi masyarakat Jawa, blangkon bukan sekadar penutup kepala, melainkan memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Kepala, rambut, dan wajah dianggap sebagai bagian tubuh yang paling mulia karena mencerminkan kehormatan, martabat, serta jati diri seseorang. Oleh sebab itu, bagian tersebut dijaga dan dihormati, salah satunya melalui penggunaan blangkon.

Pada masa lampau, laki-laki Jawa umumnya memelihara rambut panjang. Namun, rambut tersebut tidak dibiarkan terurai begitu saja. Rambut digulung dengan rapi, kemudian diikat menggunakan selembar kain yang simpulnya berada di bagian belakang kepala. Kebiasaan ini bukan hanya bertujuan menjaga kerapian. Tetapi juga mengandung pesan bahwa setiap orang harus mampu mengendalikan pikiran, sikap, dan emosinya dalam kehidupan sehari-hari.

Rambut yang dibiarkan terurai pada masa itu memiliki makna tersendiri. Kaum pria biasanya hanya membuka ikatan rambut ketika berada di rumah atau saat menghadapi situasi tertentu, seperti peperangan maupun pertikaian. Rambut yang terlepas dari ikatannya melambangkan luapan emosi yang sudah tidak dapat lagi dikendalikan.

Dari sinilah blangkon kemudian dimaknai sebagai simbol pengendalian diri. Mengikat rambut dan menutup kepala dengan rapi menjadi pengingat agar seseorang selalu mampu menjaga amarah, bertindak dengan bijaksana, serta mengedepankan ketenangan dalam menghadapi setiap persoalan. Filosofi tersebut masih melekat pada blangkon hingga kini, menjadikannya bukan hanya pelengkap busana adat, tetapi juga lambang karakter luhur masyarakat Jawa.

Perbedaan Blangkon Solo dan Jogja

Jika dilihat dari segi model serta bagian pada blangkon. Kedua blangkon solo dan jogja tentu memiliki perbedaan. Salah satu yang mudah dikenali adalah blangkon jogja memiliki tonjolan pada bagian belakang yang merupakan lambang pengendalian diri. Sedangkan blangkon solo terdapat ikatan antara dua ujung kain yang terdapat di sisi samping yang melambangkan pertemuan manusia. Selengkapnya, berikut ini adalah perbedaan di antara kedua blangkon Jawa tersebut.

Blangkon Solo

Berbeda dengan gaya Yogyakarta, blangkon Solo memiliki bentuk yang lebih sederhana karena tidak dilengkapi mondolan di bagian belakang. Meski tampilannya berbeda, blangkon ini juga menyimpan makna filosofis yang sangat mendalam. Pada bagian kanan dan kiri blangkon terdapat ikatan dua ujung kain yang melambangkan pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos atau manusia) dan jagad gedhe (makrokosmos atau Sang Pencipta). Dalam filosofi ini, kepala yang mengenakan blangkon melambangkan jagad alit, sedangkan blangkon menjadi simbol jagad gedhe yang menaungi manusia.

Makna tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak dapat menjalankan perannya di dunia hanya dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri. Sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi, manusia tetap membutuhkan petunjuk, perlindungan, dan campur tangan Tuhan dalam setiap langkah kehidupannya. Inilah alasan mengapa pada masa lampau hampir setiap pria Jawa mengenakan blangkon. Bagi mereka, blangkon bukan hanya pelengkap pakaian adat, melainkan juga pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengelola kehidupan di bumi. Sekaligus menyadari bahwa seluruh amanah tersebut hanya dapat dijalankan dengan pertolongan Sang Pencipta.

Blangkon Jogja

Salah satu ciri paling mudah dikenali dari blangkon Jogja adalah adanya mondolan, yaitu tonjolan di bagian belakang blangkon. Detail ini bukan sekadar unsur estetika, tetapi juga menyimpan filosofi yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam budaya Jawa. Mondolan melambangkan kemampuan seseorang untuk menjaga rahasia dan mengendalikan diri. Masyarakat Jawa meyakini bahwa setiap orang hendaknya tidak mudah mengumbar aib, baik aib pribadi maupun milik orang lain. Nilai tersebut mencerminkan pentingnya menjaga kehormatan, menghargai sesama, dan tidak mudah menghakimi orang lain.

Selain itu, blangkon Jogja juga menjadi simbol pribadi yang memiliki tutur kata halus, bersikap santun, serta berhati-hati dalam bertindak. Filosofi ini menggambarkan karakter luhur masyarakat Jawa yang selalu mengedepankan budi pekerti, kesopanan, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

1. Motif

Blangkon Solo dikenal dengan motif-motif khas seperti keprabon, kesatrian, perbawan, dines, dan tempen. Berbeda dengan itu, blangkon Jogja menawarkan motif yang lebih variatif seperti modang, blumbangan, kumitir, celengkewengen, jumputan, sido asih, wirasat, dan taruntum.

2. Bentuk

Blangkon Solo memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan masa pemerintahan Pakubuwono III, khususnya setelah Perjanjian Giyanti. Sebelum perjanjian ini, blangkon Solo masih menyerupai blangkon Yogyakarta dengan ciri khas adanya mondolan di bagian belakang. Namun, setelah revolusi budaya yang terjadi akibat Perjanjian Giyanti, Pakubuwono III memperkenalkan beragam desain blangkon yang mencerminkan perubahan tersebut.

Blangkon Solo terdiri dari beberapa bagian yang khas. Bagian dalam blangkon disebut congkeng yang menjadi struktur dasar penyangga. Di bagian depan terdapat wiron, yaitu lipatan-lipatan rapi dengan jumlah ganjil. Bagian lainnya meliputi waton, tutupan, lampingan, jebeh, kantong mondol, dan cunduk jungkat..

Blangkon Solo memiliki 6 model. Dari segi bentuk, blangkon Solo memiliki desain yang sederhana karena tidak menggunakan mondolan di bagian belakang. Di mana, dua pucuk helai kain di bagian belakang blangkon Solo diikatkan menjadi satu, menciptakan tampilan yang lebih datar dan minimalis. 

Sebaliknya, blangkon Jogja menggunakan mondolan atau tonjolan di bagian belakang yang tidak hanya menjadi ciri khas tetapi juga memiliki makna filosofis. Mondolan ini melambangkan kemampuan seseorang untuk menjaga rahasia dan aib, baik milik diri sendiri maupun orang lain. Filosofi ini mengajarkan pentingnya integritas, kehati-hatian dalam berbicara, dan budi pekerti yang baik. Sehingga, pengguna blangkon Jogja diharapkan bisa merefleksikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Blangkon gaya Jogja hadir dalam dua bentuk utama yang khas, yaitu Mataraman dan Kagok. Seperti halnya blangkon Yogyakarta, blangkon ini terdiri dari beberapa komponen, di antaranya wiron atau wiru, yaitu lipatan kain yang rapi pada bagian depan. Kemudian ada mondolan (tonjolan di bagian belakang), serta cetetan dan kemadha yang merupakan detail tambahan yang memperkuat struktur blangkon. Sementara tunjungan adalah bagian akhir yang menjadi penyempurna desain keseluruhan.

Makna simbolis blangkon Jogja

  1. Wiron/wiru berjumlah 17 yang melambangkan jumlah rakaat shalat dalam satu hari.
  2. Mondolan mempunyai makna kebulatan tekad seorang pria dalam melaksanakan tugasnya. 
  3. Cetetan memiliki makna permohonan pertolongan pada Allah SWT. 
  4. Kamadha bermakna menyamakan atau menganggap sama seperti putra sendiri.
  5. Tanjungan mempunyai makna kebagusan atau terlihat lebih tampan.

Baca juga : Warna Kebaya yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang

Nah, itulah beberapa perbedaan antara blangkon Solo dan Jogja yang perlu kamu ketahui. Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya melihat blangkon sebagai penutup kepala, tetapi juga sebagai simbol kebudayaan yang kaya akan makna dan filosofi yang mendalam.

Mau cari berbagai baju batik pria model terbaru yang elegan dan mewah dengan harga terjangkau? Cek koleksi selengkapnya hanya di ZALORA! Dapatkan promo spesial yang menarik untukmu!

Penulis: Fitrian Nurentama